Aku Mau Mama Kembali
|
Sometimes Good PeopLe Do Evil Things….
Cerita berikut ini saya peroleh dari seorang teman. Konon kasus ini terjadi di Malaysia. Semoga kita bisa ikut memetik hikmahnya, sehingga dapat bertindak lebih bijaksana dalam menyayangi anak.
Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar – meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja.
Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain di luar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya, ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.
Ya… kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Thaipusam.
Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?”
Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!” katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa.
Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.
Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam”… jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol ,” jawab si ibu.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius.
Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah.
“Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.
Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
“Abah.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
“Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. “Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
*”jika tidak dapat apa yang kita suka…belajarlah utk menyukai apa yang kita dapat..”
Kasih Sejati Anak
“Akhir Agustus lalu, Kucong diamankan warga setelah menembak dengan sengaja Ti, 4,5, anak kandungnya sendiri. Kejadian berlaku di Dusun Kebauk, Desa Kualan, Kecamatan Simpang Hulu, sekitar pukul 12.00 WIB. Ti ditembak karena memaksa untuk mengikuti ayahnya pergi berburu. Sang ayah yang tak mengijinkan kemudian meninggalkannya. Ti memaksa dengan menangis sambil mengejar ayahnya untuk dibawa pergi menembak. Kesal dengan ulah sang anak, Kucong kemudian memukulnya hingga berguling-guling. Ti yang pantang menyerah tetap memaksa untuk mengikuti Kucong. Kejadian tersebut berakhir setelah Kucong melepaskan tembakan melalui senapan lantak yang akan dibawanya pergi berburu. Ti jatuh seketika, namun Kucong kian bertambah kalap dan hendak memarang anaknya. Beruntung warga yang mengetahui kejadian itu mampu mencegah aksi tersebut. Ti kemudian dapat diselamatkan, sementara sang ayah diamankan.” (Kutipan dari http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=5774)
Aku sudah sering membaca berita dan tulisan tentang kisah cinta anak yang tulus ikhlas kepada orang tuanya, namun dibalas dengan kekerasan dan, bahkan, kekejaman. Saat melihat wajah anakku, aku juga merenung: mengapa aku juga sering memperlakukannya dengan keras? Padahal, saat anakku cerewet, manja, ngambek, memaksa ini-itu, mengganggu, dan perbuatan mengesalkan lainnya, semuanya karena rasa cinta dan rasa terlindungi dari segala hal. Berita di atas sepertinya bisa menjadi bahan renungan semua orang tua.
Semoga cinta kasih anak kepada orangtuanya akan mendapat jawaban yang sama dari orangtuanya juga. Kejadian diatas jangan sampai ada lagi di bumi ini. Tuhan, ampuni mereka yang telah menciptakan kekecewaan bagi anak-anak yang mengasihinya.
Tuhan Sembilan Senti
Puisi Taufiq Ismail di bawah ini sangat populer di banyak kalangan. Aku dulu juga seorang perokok. Namun telah berhenti selama lebih 10 tahun. Puisi ini kudapat dari sebuah milis. Setelah kutelusuri di GoogleSearch ternyata banyak yang menampilkannya di blog, situs pribadi, maupun di media massa lainnya. Sayang sekali rasanya kalau aku tidak menyampaikan juga di sini, mengingat apa yang kita saksikan sehari-hari benar-benar dituliskan oleh sang penyair.
Tuhan Sembilan Senti
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Mikul Duwur Mendem Jero
Sekitar delapan tahun aku tinggal di buana Ngayogyakarta Hadiningrat. Atmosfir Jawa menyelimuti setiap hari-hariku. Tinggal dengan Bu Atmoleksono (sudah menghadap Tuhan hampir sepuluh tahun yang lalu) di Jalan Suryodiningratan 22 Yogyakarta 55141. Seorang ibu yang memang sangat keibuan, gambaran amat nyata dari profil ibu Jawa. Ibu ini tinggal di sebuah rumah besar bersama dua cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, Luki dan Tanto.
Sebagai seorang yang datang dari tanah Kalimantan, budaya yang kubawa tentu sangat berbeda dengan budaya Jawa. Namun dengan mudah aku telah belajar banyak hal dari keluarga Jawa ini. Dalam tahun-tahun pertama di Yogya, setiap hari aku belajar dua bahasa: Jawa Ngoko dan Jawa Kromo. Bu Atmo, Luki, dan Tanto adalah guru-guru utamaku dalam pengetahuan tentang masyarakat Jawa. Banyak petuah dan nasehat juga telah diajarkan oleh ibu yang kurasa sebagai ibu sendiri.
Dengan hidup selama bertahun-tahun dalam alam Yogyakarta, aku menghayati falsafah dalam kehidupan yang sangat bagus dan menarik. Yogya adalah sebuah lembaga pendidikan bagiku, tempat aku menimba banyak ilmu dan pengetahuan, baik maupun buruk. Lewat pengalaman-pengalaman yang selalu mendampingi setiap hari, aku menjadi bisa lebih apresiatif terhadap kebudayaan Jawa.
Karakter Jawa adalah karakter yang halus lembut, tak suka menyinggung perasaan di depan orang, sangat menghargai dalam setiap pembicaraan. Ini juga mungkin menjadi satu penilaian ‘negatif’ dari orang lain, terutama Kalimantan. Orang Jawa adalah orang yang iya di depan tetapi sebenarnya adalah tidak. Begitu mungkin penilaian yang seringkali muncul dari teman-teman luar Jawa terhadap orang Jawa kebanyakan.
Selain itu, falsafah mikul duwur mendem jero yang sering dilontarkan oleh Pak Harto sangat menarik hatiku. Betapa tidak, seseorang tidak harus didendam seumur hidupnya. Pak Harto yang telah berangkat ke medan abadi telah meninggalkan beribu kesan dan kenangan bagi setiap insan Indonesia. Di dalam mikul duwur mendem jero juga terkandung maksud bahwa tiada manusia yang tak bersalah. Tiada orang yang tak berdosa. “Barang siapa yang merasa tidak memiliki dosa, lemparkanlah batu lebih dahulu kepada perempuan ini”, demikian kata Yesus menegur orang-orang yang ingin menghakimi seorang perempuan berdosa.
Soeharto adalah figur yang penuh dengan kesalahan bagi orang yang pernah disakitinya. Sampai pada hari keberangkatan, dia masih dipisuh-paki (caci maki). Begitu dalamnya dendam kesumat di dalam setiap sudut kehidupan orang-orang tersebut, sehingga tiada kata maaf lagi. Semestinya kita semua patut mendalami kembali ajaran-ajaran kebaikan dan kebenaran yang pernah dipelajari. Semestinya juga, orang-orang yang meyakini bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan ini, meyakini juga bahwa yang memiliki kuasa penghakiman dan pengampunan bukan ada pada manusia. Kekuasaan itu ada pada Sang Maha Kuasa. Tidak ada satupun manusia memiliki kuasa pengampunan, penghapusan, maupun menentukan tentang segala sesuatu itu dosa atau tidak. Hanya Beliaulah yang memilikinya. Satu-satunya. Tuhan yang Paling Satu.
Kita perlu memetik pesan moral yang baik dari kenyataan ini. Mikul duwur mendem jero. Soeharto telah pergi dan tak kan kembali. Segala perbuatannya biarlah Sang Khalik yang memberikan penilaian. Kita melepaskannya karena dia juga penuh dengan kebaikan. Dia juga sosok yang sama seperti kita. Kita tak bisa menimbang mana yang lebih berat pahalanya, dia atau saya. Hanya Sang Pencipta yang memiliki timbangan itu. Biarlah Pak Harto ditimbang oleh Beliau. Hasilnya, juga tak akan bisa kita ketahui. Biarlah itu menjadi urusan Beliau. Selamat Jalan Pak Harto.
Pendidikan: Jalan Mengubah Indonesia
Ketapang, 10 Januari 2008
Pertemuan dengan Neno Warisman sangat kebetulan. Dari teman baik pencinta lingkungan, Hudi DW si penyayang burung-burungan, aku berkesempatan baik bertemu dengannya. Aktris cantik ini (Neno lebih senang disebut aktris) berada di kota Ketapang untuk sebuah acara seminar bertema pendidikan. Biasanya dia jarang sekali menginap di sebuah kota dalam kunjungannya. Menurut pengakuannya, dia selalu berusaha pulang ke Jakarta pada hari yang sama untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Hari ini adalah hari keberuntunganku, Neno menginap satu malam dan kami dapat bertemu dalam kesempatan yang khusus.
Aku tertarik untuk bertemu dengan Neno, karena dia yang kukenal adalah sosok seniman yang membaktikan karya dan keahlian pada dunia pendidikan anak. Meskipun aku tidak mengikuti seminarnya siang itu (bahkan sebenarnya tidak tahu kalau ada seminar dan Neno ada di Ketapang), pertemuan yang diprakarsai oleh kang Hudi lebih memberikan arti bagiku.
Usiaku dan Neno selisih hanya beberapa bulan. Aku lebih tua darinya. Raut wajah dewasa, bijak dan ceria menjadi gambaran yang tepat bagi Neno. Dalam hal pemikiran dan kelincahan melahirkan ide dan isi pikirannya, dia adalah sosok yang amat cerdas. Ide-ide dan pendapatnya meluncur dengan sangat lancar dari wajah cantik dalam warna suara yang merdu.
Kami berbincang dalam suasana akrab, didukung lingkungan Rumah Makan Melayu di Kampung Baru, Ketapang seberang, yang tenang dan nyaman. Gazeboo dengan atap daun nipah menambah aroma khas tanah Kayong. Topik lebih banyak kepada pendidikan, selain beberapa rekan panitia yang menghadirkan Neno adalah pendidik di sekolah, juga Neno adalah tokoh di PADU (Pendidikan Anak Dini Usia). Neno rajin ‘menginterogasi’ dengan pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang dilakukan dalam hal pendidikan anak, baik di rumah (anak sendiri) maupun anak didik di sekolah.
Ada kesamaan pandangan di antara kami berdua mengenai pendidikan. Bangsa dan negara ini berada dalam situasi yang ruwet bukan main. Korupsi, manipulasi, premanisme di berbagai bidang, norma-norma agama dan kehidupan yang tak dipedulikan lagi, menjadi hal yang lumrah di Indonesia saat ini. Orang lupa akan adanya Sang Pencipta, yang berkuasa akan hidup dan kehidupan setelahnya. Meskipun para pendakwah, pastor, pendeta, dan orang bijak mengingatkan di setiap saat ibadah bersama, orang-orang tetap sudah terbiasa dalam kehidupan negatif tersebut. Aku dan Neno sepakat bahwa yang bisa mengubah semua itu tadi adalah melalui jalan pendidikan. Kita mesti mengubah generasi muda lewat jalur pendidikan. Hampir tidak ada jalan lain, selain pendidikan –baik di keluarga maupun di sekolah– yang dapat memperbaiki keadaan yang buruk di negara ini.
Pendidikan akhlak, mental, budi pekerti, atau apa pun istilah-istilah lainnya, merupakan hal yang paling utama ditekankan oleh para pendidik kepada anak didiknya. Aku selalu menekankan kepada anak-anak tentang pentingnya hal-hal berikut: jujur, disiplin, dan peduli lingkungan. Ketiga hal ini mesti diutamakan di samping hal-hal lainnya, karena dengan kejujuran, ketaatan pada aturan dan prinsip-prinsip kehidupan, serta kepedulian kepada sekitar (lingkungan alam dan kehidupannya), kita akan mampu untuk menapaki hidup yang indah dan harmonis bersama yang lain.
Diskusi dalam pertemuan malam itu berjalan amat singkat. Satu jam lebih tak menyisakan ‘kepuasan’ . Rasanya masih belum cukup. Namun, hadirnya pandangan masing-masing yang saling mengisi rasanya dapat dibawa pulang untuk direnungkan. Memang, perbincangan dengan siapa pun akan selalu menarik jika selaras dengan ketertarikan kita. Namun perbincangan dengan Neno malam itu meninggalkan kesan menggembirakan. Ternyata aktivitas mengubah negara ini lewat pendidikan juga ditekuni oleh banyak pihak, namun belum mampu untuk mengubahnya. Mungkin karena anak didik belum dewasa. Semoga setelah dewasa kelak, mereka bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik, seperti harapan yang ditanamkan oleh para pendidiknya. Amin.
Hidup untuk Kebahagiaan
Bahagia adalah perasaan pribadi setiap insan. Perasaan adalah pandangan seseorang terhadap apa yang diterimanya dalam hidup, baik fisik maupun psikis. Dengan demikian pandangan seseorang terhadap hidup dan kehidupannya bersifat sangat personal.
Rasa demikian hebat mempengaruhi perjalanan hidup. Makan bisa menjadi nyaman, jika dirasakan nyaman, dan sebaliknya menjadi sangat tidak nyaman jika dirasakan tidak nyaman. Rasa, nyaman dan tidak, bukan masalah alami melulu, namun lebih merupakan hal yang manusiawi. Rasa dapat dibagikan lewat hubungan sosial antar manusia. Rasa membuat hidup ini indah atau tak indah.
Itu sebabnya seni, karya manusia yang tak terpisahkan dari rasa, bisa menjadi indah, bisa juga tidak. Meskipun tercipta menjadi sangat indah bagi yang satu, tak bisa dipaksanakan agar indah bagi yang lain.
Jadi, kebahagiaan juga merupakan sesuatu yang sangat pribadi. Kebahagiaan bagi setiap orang tidak disebabkan oleh sesuatu yang sama. Untuk itu, pencetus kebahagiaan bisa beranekaragam, dan dapat dialihkan. Ketidakbahagiaan di satu saat dan bagian kehidupan dapat dialihkan menjadi kebahagiaan di bagian lain kehidupan.
Jadikan hidup ini untuk kebahagiaan, karena hidup kita tidak lama. Bagikan kebahagiaan bagi sesama jika sudah diperoleh.
-
Arsip
- Mei 2010 (1)
- Januari 2009 (1)
- September 2008 (1)
- Maret 2008 (1)
- Januari 2008 (2)
- Desember 2007 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS